Jumat, 07 Oktober 2011

BEBAN DARI BUAH KEJUJURAN

Secangkir kopi jadi pembuka pembicaraan.
Di bangku itu, untuk yang kedua kali aku mengungkap rasa.
Gugupnya aku sesaat setelah kulihat beningnya bola mata yang membalas tatapanku.
Semakin menjadi dan meluap dengan ketidak ikhlasan.
Merasa bodoh, tapi bahagia dengan keadaan.
Walaupun asa tak berbalas, aku puas.
Cukuplah dari kejauhan aku melihat dan merasakan kebahagiaanmu.
Keteguhan membuat aku seperti ini.
Maafkan aku dengan kelancanganku.
Semua terhantur untukmu.
Susah membedakan antara awalan dan akhiran.
Tanda tanya besar jadi penutup pembicaraan.
Aku akan merasa terbebani.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar