Jumat, 28 Oktober 2011

PERMINTAAN UNTUK RUMI DAN HALI

Dia sadar akan keberadaanku.
Terlepas atau selalu disisi adalah ketentuan.
Salahkah jika aku berusaha?
Banyak yang bilang aku sedang tersesat.
Padahal aku tau tempat yang ku tuju.
Dimana aku?
Segalanya telah kudapat dari dirimu dan ku kira itu cukup, tapi tidak untuk hatimu.
Terlalu banyak berhayal.
Pada awal berpikir mudah.
Tak pernah mengira akan larut seperti ini.
Gundah yang yang semakin menjadi.
Rumi....
Bantu aku untuk melewati semua ini.
Hali......
Tenangkan sejenak aku dalam penantianku.

Jumat, 07 Oktober 2011

BUKAN PENENTU

Aku menjadi lemah dengan keadaan.
Segala ucap dan laku yang dinilai bodoh merupakan wujud untuk mengenalmu lebih mendalam.
Makilah aku dengan kebencian dan kemurkaanmu.
Sabar menunggu jika kau yakin dnegan ketulusanku.
Tak ingin selalu berhayal.
Aku tersadar.
Aku bukan penuntut makian dan kesabaran yang didasari rasa iba untuk diriku yang hina.
Kau mungkin akan peduli.
Bantulah aku untuk lepas dari alur yang membuat aku dilema.
Siapa yang jadi penentu?
Kau untuk orang yang kutuju.
Dia untuk sesuatu yang mengiringi langkahku.
Untuk sang perayu dan yang di rayu.

BELAHAN HATI YANG TERABAIKAN

Sadar akan sesuatu yang mengambang.
Aku tak ingin terlalu larut.
Bahagia sesaat, walau hanya dapat mengenal sisi luarmu.
Bila kau sadar dan mengerti.
Timbunlah semua rasa dalam hati dan ledakan pada hati yang nanti akan kau beri.
Aku tak perlu memaksa bila harus berakhir dengan keterpurukan.
Cukuplah aku jadi belahan hati yang terabaikan.
Permintan besarku.
Jaga dirimu.
Sakit dan Ikhlas, itulah yang kurasa.

BEBAN DARI BUAH KEJUJURAN

Secangkir kopi jadi pembuka pembicaraan.
Di bangku itu, untuk yang kedua kali aku mengungkap rasa.
Gugupnya aku sesaat setelah kulihat beningnya bola mata yang membalas tatapanku.
Semakin menjadi dan meluap dengan ketidak ikhlasan.
Merasa bodoh, tapi bahagia dengan keadaan.
Walaupun asa tak berbalas, aku puas.
Cukuplah dari kejauhan aku melihat dan merasakan kebahagiaanmu.
Keteguhan membuat aku seperti ini.
Maafkan aku dengan kelancanganku.
Semua terhantur untukmu.
Susah membedakan antara awalan dan akhiran.
Tanda tanya besar jadi penutup pembicaraan.
Aku akan merasa terbebani.